Munculnya pengobatan alternatif dukun cilik Ponari, menjadi hangat dalam pemberitaan media massa di Indonesia. Hampir setiap hari kita melihat bagaimana orang berbondong-bondong, rela mengantri berhari-hari, bahkan ada yang sampai menginap untuk mendapatkan air dari batu ajaib milik Ponari. Entahlah bagaimana caranya logika berpikir pasien-pasien Ponari memaknai pengobatan alternatif tersebut dan kesembuhan yang dirasakan. Namun animo masyarakat yang begitu antusias untuk mendapatkan pengobatan tersebut perlu kita renungkan, ada apa dengan masyarakat kita? Kemunculan Ponari hanyalah satu kejadian yang kebetulan diliput media massa. Masih banyak bentuk-bentuk pengobatan alternatif semacam itu yang luput dari pemberitaan media massa. Kemunculan Ponari mengingatkan saya pada suatu kejadian yang sama pada sekitar tahun 1993 di tempat saya. Adalah seorang ibu rumah tangga yang terkenal dengan nama Maria Oelami, melakukan pengobatan dengan batu ajaib dan air yang diberikan. Beberapa pasien yang sudah menginap berhari-hari di Rumah Sakit mengambil sikap pulang paksa hanya untuk menemui dukun tersebut. Cara pengobatan alternatif tersebut, secara medis memang tidak dapat dipertanggungjawabkan, namun perlu dicermati mengapa mereka dapat menerima hal itu secara logika.
Tentunya banyak faktor yang mempengaruhi sikap masyarakat tersebut, seperti pendidikan, faktor ekonomi, kepercayaan terhadap sesuatu yang dipahami masyarakat secara turun-temurun, sikap masyarakat yang serba instan (maunya sekali berobat langsung sembuh) dan lain sebagainya. Yang tidak kalah penting adalah faktor pelayanan kesehatan. Ini sedikit memberikan tamparan manakala Indonesia (melalui sector Kesehatan) sudah diambang Visi Indoesia Sehat 2010 yang menginginkan masyarakatnya hidup dalam lingkungan dan berperilaku hidup sehat, memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata serta memiliki derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. Sikap masyarakat yang enggan ke fasilitas kesehatan ( ia baru akan ke fasilitas kesehatan kalau sakitnya sudah parah), ditambah lagi dengan biaya pengobatan yang mahal kemudian birokrasi sistem pelayanan kesehatan yang rumit memicu masyarakat untuk mengambil langkah yang instan, tidak berbelit-belit dan murah meriah. Tentunya masih banyak hal lagi yang perlu didiskusikan terkait masalah tersebut, namun beberapa hal yang perlu menjadi perenungan dan disikapi secara cermat adalah bagaimana melakukan upaya peningkatan pelayanan kesehatan secara bermutu dan terjangkau.
Untuk itu beberapa hal strategis yang perlu dibenahi adalah bagaimana memberikan informasi yang relevan, akurat, dan mudah agar masyarakat memiliki akses yang baik terhadap pelayanan kesehatan. Memasuki era revolusi informasi ini, masyarakat memang memiliki sikap instan. Segala sesuatu harus diperoleh dengan mudah. Pengembangan system informasi merupakan hal yang mutlak diperlukan. Kalau informasi mengenai Ponari dalam sekejap, dapat menjangkau masyarakat yang begitu luas, mengapa dokter tidak bisa. Padahal Ponari tidak mempunyai software atau SIKNAS online. Bagaimana mahasiswa SIMKES ?.
H.sutowo 3:01 am pada Juni 8, 2009 Permalink
maaf anda bas……..yang dulu di puskesmas wini, ya… inget nggak aku pernah di besikama
bashaumein 11:21 am pada Juni 10, 2009 Permalink
benar pak…………….., mas hery sekarang tugas dimana ?????
Fahrisal Akbar 10:43 pm pada Juli 4, 2009 Permalink
Pak Bas….
Sudah sampai dimana proposal utk thesisnya??
Udah cetak atau udah mau naik seminar ne??
Saya masih nunggu dr.Lutfan, Ph.D ne….
bashaumein 7:49 am pada Juli 7, 2009 Permalink
Saya siap maju………….
Maman 8:42 am pada Januari 26, 2010 Permalink
Bisa di lihat di
http://www.nova-hub.com/novahealth/news/news_2005dec.htm